KonsepSastraTembangBahasaKarawitan
Macapat
Puisi tembang tradisional Jawa yang setiap baitnya diikat oleh jumlah baris, jumlah suku kata, dan vokal akhir, lalu dihidupkan melalui lagu, cengkok, serta penafsiran penembang.
Pengertian
Macapat adalah puisi tradisional Jawa yang sekaligus merupakan seni vokal. Teksnya disusun dalam bait-bait berpola, lalu ditembangkan. Karena itu, macapat tidak cukup dipahami sebagai tulisan yang bersajak: bentuk sastra, pilihan kata, lagu, napas, pedhotan atau pemenggalan, dan cara penembang membawakan rasa bekerja bersama.
Satu karya panjang dapat berganti dari satu metrum ke metrum lain. Bagian yang memakai satu jenis metrum disebut pupuh, sedangkan satu bait di dalamnya disebut pada. Serat Wédhatama, misalnya, tersusun dalam pupuh Pangkur, Sinom, Pocung, Gambuh, dan Kinanthi.
Tiga paugeran utama
- Guru gatra: jumlah baris atau gatra dalam satu bait.
- Guru wilangan: jumlah suku kata atau wanda pada setiap baris.
- Guru lagu: vokal pada suku kata terakhir setiap baris, biasanya ditulis a, i, u, e, atau o.
Pola 8a, 11i, 8u berarti baris pertama berisi delapan suku kata dan berakhir vokal a, baris kedua sebelas suku kata dan berakhir i, lalu baris ketiga delapan suku kata dan berakhir u. Angka dan huruf itu adalah aturan bentuk, bukan notasi tinggi-rendah nada.
Sebelas metrum yang umum diajarkan
| Metrum | Guru gatra | Guru wilangan dan guru lagu | Kecenderungan watak |
|---|---|---|---|
| Maskumambang | 4 | 12i, 6a, 8i, 8a | prihatin, rawan, duka |
| Mijil | 6 | 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u | nasihat, harapan, kasih |
| Sinom | 9 | 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a | muda, ramah, pengajaran |
| Kinanthi | 6 | 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i | tuntunan, kedekatan, kasih |
| Asmaradana | 7 | 8i, 8a, 8e/o, 8a, 7a, 8u, 8a | cinta, rindu, prihatin |
| Gambuh | 5 | 7u, 10u, 12i, 8u, 8o | akrab, mantap, nasihat |
| Dhandhanggula | 10 | 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a | luwes, manis, tenteram |
| Durma | 7 | 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i | tegas, keras, bersemangat |
| Pangkur | 7 | 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i | sungguh-sungguh, memuncak |
| Megatruh | 5 | 12u, 8i, 8u, 8i, 8o | sedih, sesal, kehilangan |
| Pocung | 4 | 12u, 6a, 8i, 12a | santai, jenaka, nasihat akrab |
Nama Asmarandana, Dandanggula, Megatru, dan Pucung juga dijumpai sebagai varian ejaan atau penyebutan. Paugeran di atas adalah bentuk yang paling umum diajarkan; praktik naskah dan tradisi setempat dapat menunjukkan varian kecil.
Mengapa ada daftar yang berbeda?
Tidak semua pustaka menghitung jenis macapat dengan cara yang sama. Ada pengelompokan ringkas yang hanya memasukkan metrum yang dianggap macapat murni, ada daftar sebelas metrum yang lazim di buku ajar, dan ada daftar lebih luas yang menggabungkan tembang tengahan seperti Jurudhemung, Wirangrong, Balabak, dan Girisa hingga berjumlah lima belas. Perbedaan jumlah itu lahir dari perbedaan klasifikasi, bukan berarti salah satu tradisi tidak sah.
Urutan sebelas metrum juga kerap diterangkan sebagai perjalanan hidup—dari kandungan, lahir, tumbuh, berumah tangga, menua, sampai meninggal. Tafsir ini berguna sebagai alat mengingat dan salah satu pembacaan simbolik, tetapi bukan aturan yang menentukan semua isi tembang. Penyair dapat memakai Pangkur untuk piwulang, Pocung untuk teka-teki, atau Kinanthi untuk renungan sesuai kebutuhan karya.
Cara membaca dan menembang
- Kenali metrum dan pecah teks menjadi gatra.
- Hitung wanda menurut pelafalan Jawa, bukan sekadar jumlah huruf.
- Periksa vokal akhir setiap gatra.
- Tandai pedhotan agar kalimat tidak terpotong pada tempat yang merusak makna.
- Pilih cengkok dan laras yang sesuai dengan tradisi serta isi teks.
- Baca terjemahan sebagai bantuan, bukan pengganti bunyi, permainan kata, dan konteks bahasa Jawa.
Paugeran menjamin bentuk, tetapi belum menghasilkan tembang yang hidup. Penembang tetap perlu mengolah napas, artikulasi, cengkok, tempo, dan rasa agar teks tidak terdengar seperti deretan suku kata yang dihitung secara mekanis.
Catatan Rasa
Watak seperti sedih, tegas, akrab, atau riang adalah kecenderungan estetik, bukan arti tunggal yang otomatis melekat pada setiap syair. Isi teks, cengkok, laras, tempo, dan konteks pementasan ikut membentuk rasa.
Berkaitan dengan
Digunakan dalam
Sumber
- Macapat Tembang Jawa, Indah, dan Kaya MaknaLihat sumber ↗Buku pengantar yang menjelaskan guru gatra, guru wilangan, guru lagu, watak tembang, serta paugeran sebelas metrum macapat yang umum diajarkan.
- Macapat dan Gotong RoyongLihat sumber ↗Kajian mengenai macapat sebagai puisi dan seni vokal, fungsi sosialnya, watak tembang, serta perbedaan pengelompokan delapan hingga lima belas metrum dalam pustaka Jawa.