Modul Sinau
Mengenal Carakan
Perkenalan aksara Jawa (Carakan): dari prinsip aksara suku kata hingga membaca aksara legenis yang sederhana.
Yang akan kamu pahami
- Mengapa aksara Jawa disebut aksara suku kata (aksara wianjana).
- Prinsip dasar membaca carakan: konsonan + vokal “a”.
- Ada sandhangan untuk mengubah vokal — dibahas lanjut di bagian Aksara.
Pengantar
Aksara Jawa — atau carakan — telah dipakai berabad-abad untuk menuliskan bahasa Jawa dalam naskah dan prasasti. Modul ini memberi bekal membaca tingkat paling dasar.
Aksara suku kata
Berbeda dengan abjad Latin, satu huruf carakan mewakili satu suku kata: konsonan yang dibunyikan bersama vokal “a”. Baris pertamanya: ha na ca ra ka, dilanjut da ta sa wa la.
Jadi aksara “ka” dibaca “ka” — bukan “k”. Untuk mematikan vokal “a”-nya, dipakai tanda khusus yang disebut pangkon.
Sandhangan: tanda di atas dan di bawah
Untuk mengubah bunyi vokal, dipakai sandhangan: tanda tarung, wulu, cecak, dan kawan-kawannya. Kombinasi aksara dan sandhangan inilah yang membentuk suku kata lengkap — misalnya ma, mi, mu dari aksara “ma” dengan sandhangan berbeda.
Latihan singkat
Coba baca urutan ha na ca ra ka dengan lantang, lalu tuliskan namamu dalam Latin dan perhatikan suku-kata per suku-katanya — di situ nanti letak aksara dan sandhanganmu.
Ringkasan
Carakan adalah aksara suku kata: satu aksara = satu suku kata ber-vokal “a”, dan sandhangan mengubah vokalnya.
Pelajari selanjutnya
Bagian Aksara di situs ini menyajikan daftar carakan, sandhangan, dan pasangan secara lengkap — beserta alat transliterasi Latin → Aksara Jawa untuk mencoba menulis.