IstilahMusikKarawitan

Pélog

Sistem laras gamelan yang menyediakan tujuh posisi nada dalam satu gembyangan dengan jarak sempit dan lebar yang tidak berimbang; sebuah gendhing biasanya mengutamakan susunan lima nada di antaranya.

Pengertian

Pélog adalah salah satu dari dua sistem laras utama dalam gamelan Jawa. Perangkat pélog menyediakan tujuh posisi nada dalam satu gembyangan. Dalam notasi Kepatihan, nada-nadanya ditulis 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7, yang biasa dibaca ji, ro, lu, pat, ma, nem, dan pi.

Ciri utamanya adalah jarak antarnada yang tidak berimbang: ada langkah yang sempit dan ada yang lebar. Susunan ini membedakannya dari sléndro, yang memiliki lima nada dengan jarak relatif lebih berimbang.

Tujuh nada, pilihan lima nada

Walaupun perangkat pélog menyediakan tujuh posisi nada, sebuah gendhing biasanya tidak memperlakukan ketujuhnya dengan bobot yang sama. Susunan lima nada tertentu menjadi kerangka utama sesuai pathet dan garap yang digunakan; nada lain dapat hadir dalam fungsi yang lebih terbatas.

Karena itu, pélog tidak tepat dipahami hanya sebagai “tangga nada tujuh nada”. Yang penting bukan sekadar jumlah nadanya, melainkan hubungan jarak, pilihan nada, dan cara nada-nada tersebut diarahkan dalam gendhing.

Pelarasan tidak tunggal

Pélog bukan salinan tangga nada diatonis Barat. Tinggi nada dan ukuran intervalnya dapat berbeda antara satu perangkat gamelan dan perangkat lainnya. Perbedaan pelarasan ini merupakan bagian dari watak bunyi masing-masing perangkat, sehingga padanan dengan tuts piano hanya dapat menjadi perkiraan kasar.

Istilah pélog juga dijumpai dalam tradisi Sunda dan Bali, tetapi susunan serta praktik musikalnya tidak selalu sama. Uraian di sini terutama merujuk pada karawitan Jawa gaya Yogyakarta dan Surakarta.

Catatan Rasa

Pélog sering langsung disebut “sedih” atau “khidmat”. Padahal rasa sebuah gendhing juga dibentuk oleh pathet, pilihan nada, irama, garap, tempo, dan konteks pertunjukannya—bukan oleh nama laras semata.

Berkaitan dengan

Berkaitan dengan

Sumber

  1. Sumarsam. Introduction to Javanese Gamelan (2002) — Wesleyan UniversityLihat sumber ↗Pengantar karawitan Jawa yang menjelaskan sistem laras sléndro dan pélog, notasi Kepatihan, pola interval, pathet, serta kekhasan pelarasan setiap perangkat gamelan. Naskah terakhir direvisi pada 2002.
  2. Nanang Karbito. Komposisi “Jangkah” Klonthong Laras Pelog (2015) — RESITAL — Jurnal Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia YogyakartaLihat sumber ↗Artikel tentang jangkah atau interval dalam laras gamelan. Membandingkan jarak nada sléndro yang relatif berimbang dengan jarak nada pélog yang tidak sama serta menjelaskan variasi pelarasan antargamelan.