TradisiTradisi
Sekaten
Perayaan tahunan memperingati Maulid Nabi Muhammad yang digelar keraton di Yogyakarta dan Surakarta, ditandai tabuhan gamelan pusaka di masjid besar keraton.
Pengertian
Sekaten adalah perayaan tahunan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad yang digelar oleh keraton di Yogyakarta dan Surakarta. Namanya melekat pada tabuhan gamelan-sekaten — perangkat gamelan pusaka keraton yang dibunyikan di masjid besar selama perayaan berlangsung.
Konteks
Di Yogyakarta, Sekaten adalah hajad dalem (upacara keraton) yang berlangsung tanggal 5–12 Mulud: gamelan diarak dari keraton ke Masjid Gedhe Kauman, dibunyikan setiap hari dari tanggal 6 hingga 11 Mulud, dan perayaan memuncak pada Garebeg Mulud tanggal 12. Di Surakarta, perangkat Kyai Guntur Sari dibunyikan di Masjid Agung Surakarta dengan pola yang serupa.
Di sekitar masjid, pasar rakyat tumbuh menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan — sehingga bagi banyak orang, datang ke Sekaten berarti keduanya sekaligus: mendengarkan gamelan dan meramaikan pasar.
Catatan Rasa
Bagi warga Yogyakarta dan Surakarta, Sekaten punya dua wajah yang sama sahnya: malam tabuhan gamelan di halaman masjid, dan pasar rakyat yang ramai di alun-alun. Keraton memperingati Maulid; masyarakat ikut merayakan dengan cara masing-masing.
Mitos & Konteks
Kepercayaan populer
Sekaten sering dikisahkan diciptakan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah: gamelan dibunyikan untuk menarik orang, lalu ajaran Islam disampaikan. Namanya pun sering dijelaskan berasal dari syahadatain, dua kalimat syahadat.
Konteks yang perlu diketahui
Bentuk yang terdokumentasi adalah tradisi keraton. Gamelan sekaten dikenal sebagai pusaka Kesultanan Mataram yang terbelah setelah Perjanjian Giyanti 1755 — dan asal nama sekaten masih diperdebatkan, selain syahadatain ada pula yang mengaitkannya dengan istilah sekati.
Catatan sumber
Kisah Sunan Kalijaga penting bagi kesadaran budaya, tetapi berupa riwayat populer yang sulit diverifikasi secara historis.
Berkaitan dengan
Dipraktikkan di
Menggunakan
Sumber
- Syiar Islam Melalui SekatenLihat sumber ↗Halaman resmi Kraton Yogyakarta tentang Sekaten sebagai hajad dalem: pelaksanaan 5–12 Mulud, tabuhan gamelan, hingga Garebeg Mulud.
- Gamelan Sekaten — Irama Abadi yang Menyatukan Jogja di Alun-AlunLihat sumber ↗Tulisan Museum Sonobudoyo tentang asal-usul perangkat gamelan sekaten dari Kesultanan Mataram dan pembagiannya setelah Perjanjian Giyanti 1755.