Modul Sinau

Ngoko dan Krama

Dasar unggah-ungguh dalam percakapan sehari-hari: kapan memakai ngoko, kapan memakai krama, dan apa yang terjadi di antara keduanya.

10 menit baca · bahasa, etika

Yang akan kamu pahami

  • Beda fungsi ngoko dan krama dalam percakapan.
  • Mengapa pilihan ragam bukan soal formalitas.
  • Ada ragam tengah (madya) di antara keduanya.

Pengantar

Bahasa Jawa tidak memakai satu ragam untuk semua situasi. Sebelum bicara, penuturnya membaca dulu situasinya: siapa lawan bicara, seberapa akrab, dan seberapa besar rasa hormat yang perlu dinyatakan. Modul ini membahas dua ragam yang paling sering dipakai sehari-hari.

Ngoko: ragam untuk yang akrab

Ngoko dipakai kepada orang yang dianggap setara atau lebih muda — teman, adik, atau anak. Contohnya: “Kowe arep menyang endi?” (kamu mau ke mana?).

ngoko juga menjadi dasar kosakata: bentuk ngoko adalah bentuk dasar yang dipadankan menjadi ragam lain.

Krama: ragam untuk menghormati

Krama dipakai untuk menunjukkan rasa hormat — kepada yang lebih tua, belum akrab, atau lebih tinggi kedudukannya. Kalimat yang sama menjadi: “Panjenengan badhe tindak pundi?” (Anda mau ke mana?).

Perhatikan bahwa hampir semua katanya berganti, bukan hanya disisipkan kata tolong atau kata hormat. Lihat padanannya di entri krama.

Di antara keduanya

Dalam kenyataannya, sering dibutuhkan ragam tengah: cukup sopan tanpa terlalu formal. Ragam ini disebut madya — campuran kosakata ngoko dengan tata krama krama, dipakai misalnya kepada orang asing yang sebaya.

Latihan singkat

Kamu akan bicara dengan tiga orang: adikmu, tetangga yang lebih tua dan belum akrab, serta kawan lama sekolah. Ragam apa yang kamu pilih untuk masing-masing, dan apa yang terjadi kalau tertukar?

Ringkasan

Pilihan ragam adalah cara berbahasa untuk menempatkan orang. Ngoko untuk yang akrab, krama untuk yang dihormati, madya di antaranya.

Pelajari selanjutnya

Lanjutkan ke konsep induknya di unggah-ungguh, atau lihat padanan kosakata di krama.