Modul Sinau
Peta Tingkat Tutur
Memperluas peta unggah-ungguh: krama inggil untuk mengangkat, krama andhap untuk merendahkan diri, dan di mana madya berdiri.
Yang akan kamu pahami
- Perbedaan krama biasa, krama inggil, dan krama andhap.
- Mengapa satu kalimat bisa memakai beberapa ragam sekaligus.
- Posisi madya dalam peta tingkat tutur.
Pengantar
Setelah mengenal ngoko dan krama, peta tingkat tutur bisa dilengkapi. Krama punya dua arah penghormatan: ke atas (kepada lawan bicara) dan ke bawah (kepada diri sendiri).
Krama inggil: mengangkat lawan bicara
Krama inggil dipakai untuk tindakan atau keadaan orang yang dihormati. Contoh: untuk “makan”, bentuk inggilnya adalah dhahar; untuk “tidur”, saré.
Krama andhap: merendahkan diri sendiri
Ketika bicara tentang tindakan diri sendiri di hadapan orang yang dihormati, dipakai krama andhap: untuk “makan”, bentuknya neda. Arahnya terbalik dari krama inggil.
Satu kalimat, dua arah
Perhatikan kalimat pendek ini: Bapak dhahar, kula neda. — kata “makan” muncul dua kali dalam dua bentuk: krama inggil untuk bapak, krama andhap untuk diri sendiri. Inilah unggah-ungguh bekerja dalam satu nafas.
Latihan singkat
Kamu menceritakan makan siang bersama kakek. Kata “makan” untuk kakek dan untuk dirimu — satu bentuk atau dua? Mengapa?
Ringkasan
Krama inggil mengangkat lawan bicara, krama andhap merendahkan diri sendiri, madya menjadi jalan tengah. Ketiganya bekerja bersama dalam percakapan nyata.
Pelajari selanjutnya
Ulangi dasarnya di modul ngoko-dan-krama, atau baca konsep induknya di Kawruh: unggah-ungguh.
Catatan Rasa
"Mengangkat" dan "merendahkan" dalam tingkat tutur bukan soal menaik-menurunkan harga diri: krama inggil mengangkat lawan bicara, sementara krama andhap merendahkan diri sendiri sebagai bentuk kesantunan — bukan kekalahan.