Rupa-rupaBahasa

Wilangan Basa Kawi

Deret bilangan dalam bahasa Kawi (berakar dari Sanskerta) yang masih hidup dalam tembang, tutur, dan kandrasengkala.

Konteks

Selain bilangan sehari-hari (lihat bilangan-bahasa-jawa), bahasa Jawa mewarisi deret bilangan Kawi yang berakar dari bahasa Sanskerta. Deret ini tidak dipakai untuk menghitung keseharian — ia hidup dalam teks klasik, tembang, penanggalan, dan kandrasengkala: kronogram yang menyembunyikan angka tahun dalam kata-kata puitis.

JawaIndonesia
ekasatu
dwidua
tritiga
caturempat
pancalima
sadenam
saptatujuh
astadelapan
nawasembilan
dasasepuluh

Bilangan di atas sepuluh dibentuk dengan menggabungkan: ekadasa (sebelas), dwidasa (dua belas), dan seterusnya sampai widhiwasa (tak terhingga).

Catatan rasa

Dalam kandrasengkala, angka kerap diwakili kata yang penuh dengan gitutan — bukan hanya wilangan Kawi, melainkan juga kata benda yang jumlahnya baku, misalnya pandhawa (lima) atau dewata (delapan). Karena itu membaca kronogram menuntut kebiasaan dengan tradisi, bukan sekadar hafalan deret.

Berkaitan dengan

Bagian dari

Sumber

  1. Lampiran — Nama Angka dalam Bahasa Jawa (Wikikamus)Lihat sumber ↗Lampiran Wikikamus Indonesia yang membandingkan bilangan bahasa Jawa modern, Jawa kuna (krama kuno), dan Kawi/Sanskerta.
  2. W. J. S. Poerwadarminta. Baoesastra Jawa (1939) — J. B. WoltersKamus besar bahasa Jawa yang menjadi rujukan standar leksikon dan ragam bahasa Jawa baku.